Minggu, 14 September 2014

kata "jahat" ini milik siapa?

masih ada luka dalam setiap tarikan nafas, dalam setiap hembusan nafas, dalam setiap hirupan oksigen.
masih ada kisah lampau yang terseret dalam dimensi baru, dimensi yang slalu memberikan sedikit hentakan di stiap relung hati. tentang apa ?
sekali lagi ku tekankan ini masih tentang sebuah kisah di masa lalu, kisah yang menyebabkan hidup yang rumit semakin rumit, hidup yang pahit semakin pahit layaknya empedu, semakin pelik, dan semakin memanas seperti bara pada tungku api.
masa lalu, 2 kata yang slalu jadi faktor terbesar rasa sesak semakin tumbuh dan melesat cepat, hingga terkadang ada air yang meluncur dengan hebatnya, disertai suara segukan, air itulah air mata.

entahlah harus dengan perandaian dan kiasan seperti apalagi yang harus aku tuliskan untuk menggambarkan perasaan ini.
perempuan penulis ini tak bisa menjerit, tak bisa meronta, tak bisa berteriak bahkan tak bisa menampar 2 sosok yang membuat hidupnya penuh drama dan penuh belas kasihan orang lain.
perempuan ini hanya bisa marah dalam diam, hanya bisa menangis dalam diam, hanya bisa menjerit dalam diam, semuanya hanya dalam diam.
bukan aku tak bisa berbuat layaknya orang lain, berkata kasar, memaki, memarahi, mendatangi, menampar.
aku bisa aku sangat bisa melakukan itu, tapi perlakuan seperti itu hanya akan membuat orang berkata negatif tentangku.

sungguh sampai saat ini
tak akan ada yang bisa menyentuh dasar hatiku, tak akan ada yang tau seberapa SO KUAT, seberapa SO TEGAR dan seberapa SO HEBATNYA aku menutupi semuanya.
 bahkan 2 sosok itu pun tak akan pernah sudi untuk bertukar posisi satu jam saja denganku.

bagaimana bisa seorang perempuan menahan emosinya disaat luka yang belum sembuh dengan sangat ringan di bubuhi air perasan jeruk nipis, di sayat kembali, di buat semakin menganga dan melebar.
bagaimana bisa seorang perempuan menahan kesabarannya atas sgala hal yang tak adil.

jika boleh ku ceritakan perasaan sakit ini seperti apa, sungguh tak akan habis satu malam suntuk aku ceritakan.
semuanya terlampau sakit sesakit sakitnya.
mungkin semua perempuan yang tau sedikit ceritaku pun akan merasakan sakit yang sama, jika suatu hal yang ia sempat miliki dahulu dengan sangat mudahnya direbut,dimiliki,dan dibanggakan oleh orang yang justru menjadi sebab rasa sakitnya tumbuh setiap saat.
sejujurnya aku sangat tak ingin mempermasalahkan hal ini, karena apa ? karena sakit ini akan terasa semakin parah. tapi apa boleh buat, semua terlampau sudah menjadi permasalahan yang kompleks.
sebuah label "jahat" tersanding pada diriku yang kata "mereka" mengganggu "dia dan dirinya" serta aku yang kata "mereka" sulit untuk melangkah maju dan melupakan, sementara label "jahat" juga tersanding untuk "dia" karena perlakuannya yang "merebut,mengkhianati dll".
iya label itu dengan mudah orang berikan kepada aku dan dia, aku maklumi itu, karena stiap orang akan memiliki kacamata yang berbeda.
ya bila hati yang dipakai untuk menelaah mungkin "mereka" akan tau siapa yang "jahat" siapa yang "terjahati".
ah terserahlah.
seberapa banyak pun kosakata yang ku deretkan pada halaman ini tak akan membuat "mereka" atau "dia dan dirinya" sadar.
karena "mereka" bersama "dia dan dirinya" terlalu dangkal untuk memikirkan masalah "perasaan"
terlalu "tuli" untuk mendengar sebuah fakta.
terlalu "buta" untuk menangkap semua hal yang nyata.
karena kata "solidaritas" yang mereka usung, bukanlah "solidaritas" yang sesungguhnya.

sudahlah
yang jelas label "baik" dan "jahat" akan tetap di perebutkan serta disandingkan untuk aku dan dia (pr).



Adinda..Tuhan tak pernah tidur
dia tau siapa yang terkhianati dan siapa yang pura-pura dikhianati
10Intan. 

Sabtu, 06 September 2014

sebulan yang lalu.

sabtu malam yang aku habiskan dengan aneka tugas yang sangat menjemukan.
melelahkan, membuat mata ini semakin berkantung.
rasanya baru satu minggu kembali ke rutinitas semula, 
yap perkuliahan, tapi bebannya seperti sudah satu bulan kuliah.
ini tentang keluhku di sabtu malam.
ya walaupun ada keluhan lain yang terus hinggap di relung hati bagian dalam.

masih tentang kamu.

apakah kamu masih ingat ? sebulan yang lalu.
tepat di sabtu malam juga, hari dimana kamu dengan mudahnya berkata manis melalu tulisan singkat.
tulisan yang kamu kirimkan untuk aku.
masih ingatkah ? sebulan yang lalu kamu hadir laksana oase di gurun pasir.
nampak ada namun tak ada,
sangat semu.
kamu selalu jadi lelaki terhebat dalam membuat malam panjangku seakan semakin panjang.
membuat setiap denting jam terasa sangat kencang merusak gendang telinga.
serta membiarkan air mata terus melesat dengan kencang dari pelupuk mata hingga sampai di ujung dagu.

tuan aku selalu menunggu kabarmu semenjak satu bulan yang lalu kamu mengabaikan aku.
melupakan segala janji yang belum jua kamu tepati.
aku selalu menunggu setiap denting bbm dari kamu.
aku selalu menunggu dering telpon dengan nama kontakmu yang muncul di layar.
tapi apa yang slalu aku dapat slain kekecewaan ?
kamu dengan sangat ringan bersliweran di antara ratusan recent update, di timeline path, di twitter.
tapi kamu seakan slalu sibuk dan menomor sekian kan aku.
aku selalu tak berada di bagian depan retinamu.
aku slalu berada di belakang.
sekalipun ada di depanmu, matamu slalu menutup hingga retinamu tak juga menangkap bayangan aku.

aku selalu dibuat kepayahan dalam menunggu, membiarkan pengabaianmu adalah hal yang sudah sangat biasa.
membiarkan kamu menyanyikan lagu rindu untuk orang lain seakan aku tak tau apa-apa.
seakan aku tak merasakan sakit hati sedikit pun.
aku slalu menutupi segala halnya dari kamu.
membiarkan rasa sakit ini ku telan bulat-bulat.

terkadang aku berpikir akan sejauh mana kamu tak mempedulikan aku
akan sekuat apa kamu tak mengabariku.
tapi nyatanya ?
kamu jauh lebih hebat dan akulah yang jauh lebih lemah.

selama satu bulan tak ada satu kabar pun yang kamu selipkan untuk aku.
selama satu bulan kamu tak mengajakku bercerita.

mungkinkah kamu lupa akan perempuan yang sejujurnya selalu haus akan ceritamu di tanah rantau ?
mungkinkah kamu lupa dengan perempuan yang slalu kepayahan, yang slalu menghabiskan waktunya untuk membisu dan bercerita tentang kamu dengan rentetan huruf dalam keyboard laptopku ?

aku benar-benar sadar akan status yang aku sandang, aku memang bukan siapa-siapa kamu.
aku slalu tertampar dengan pernyataan yang ku buat dengan sndirinya itu, aku slalu merasakan tubuhku semakin tak berdaya saat semua usahaku tampak begitu semu dan mudah kamu abaikan.
aku tau aku hanya temanmu, aku hanya orang yang kamu datangi disaat susah.
aku tau aku hanya teman berkeluhmu, bukan teman berbahagiamu.
aku tau
aku sangat amat tau.
aku tidaklah secantik mereka, aku tak pernah menghabiskan waktu di salon
aku tak pernah menghabiskan waktuku untuk berjalan berdua denganmu, aku tak pernah bisa membanggakan kamu di hadapan teman-temanku
iya karena aku sadar aku bukan siapa-siapamu.
hingga aku tak berhak mendapatkan kabarmu
mendapatkan kata rindu darimu
mendapatkan kebahagiaan bersamamu

selama satu bulan aku slalu berusaha meyakinkan diri, bahwa kamu sangat sibuk.
selama satu bulan juga aku slalu berkata bahwa kamu akan mengabariku sabtu nanti, sabtu depan atau lusa, bahkan hingga saat aku menuliskan catatan ini, aku masih menunggu satu pesan darimu.
sekalipun itu hanyalah tanda titik.

aku merindumu.
sungguh
andai saja kamu bisa hitung berapa banyak nafas yang aku hembuskan dengan kekuatan dan harapan bahwa esok kamu akan menyambut hangat pagiku dengan kabar, memelukku dari jauh dengan suaramu.
walau aku tau itu tak mungkin.


jika rindu ini masih tak sampai
biarkanlah rindu ini mengendap
namun jika rindu ini sampai pada gendang telingamu
maka kabari aku secepatnya.
10Intan.