Aku perempuanmu (katamu)
Aku menyayangimu (katamu)
Aku bak mutiara (katamu)
Semua katamu.
Bukan kata aku.
Aku terabaikan (kataku)
bukan aku tapi hatiku lebih tepatnya.
Bagaimana bisa itu terjadi?
Ya itu terjadi amat mudah dan tanpa kamu sadari.
Entah kapan akan kamu sadari.
Mungkin saja hari ini mungkin juga lusa atau mungkin tidak akan kamu sadari secepatnya.
Kemungkinan itu akan slalu ada.
Ya, karena hanya kamu dan Tuhanmu yang dapat menentukan cepat atau lambatnya kesadaranmu.
Aku sangat kelu untuk sekedar berkata bahwa ya aku cemburu.
Aku cemburu lelaki yg aku miliki justru lebih menyukai perempuan lain.
Menyukai dalam makna yang berbeda dan hanya aku yg paham.
Aku benci ada dalam posisi diberatkan seperti ini.
Aku benci harus memaklumi semuanya.
Semuanya.
Aku benci harus memamerkan senyum padahal hatiku gelisah.
Aku benci harus tertawa padahal hatiku menangis sejadinya.
aku benci harus terus bermain peran disetiap waktu.
Artis pun bermain peran dibayar, nah aku? Jangankan dibayar. Dihargai saja rasanya sulit.
Aku benci dengan perempuan yang dulu ada di sekitarmu dan masih saja ada di sekitarmu saat ini.
Aku benci karena dia tidak tau bagaimana porsinya saat ini.
Aku benci karena dia tidak sadar bagaimana tersakitinya aku.
Aku benci sebenci-bencinya.
Tapi sayangnya itu sebatas kata.
Faktanya aku terus berusaha mengatur emosiku untuk tidak membencinya.
Walau itu sulit.
Percayalah jika kamu berada diposisiku mungkin kamu akan jauh lebih paham perkara ini.
Coba saja kamu berani untuk sekedar menelisik kondisi hatiku, mungkin km akan dapati bagaimana sejatinya hati ini.
hati yang setiap harinya menyayangimu tapi setiap hari pula merasa tersakiti.
hati yang setiap harinya menyayangimu tapi setiap hari pula merasa terabaikan.
Coba telisik hatiku!
Sedikit saja
Jangan pura-pura.
Aku butuh hadirmu bukan hanya sebatas kata.
tapi lebih dari itu.
Aku butuh hadirmu bukan hanya sebatas angan.
tapi lebih jauh dari itu.
Aku ingin dihargai sebagaimana kamu menghargai perempuan dulu yang kamu anggap adikmu itu.
Aku ingin kamu cemaskan sebagaimana kamu mencemaskan teman perempuanmu.
Aku ingin kamu tau
Sayang yang aku punya tidak sepalsu senyum di instagramku
Aku ingin kamu tau
Kasih yang aku punya tidak sepalsu emoticon ":)" dan sepalsu "hahaha" ku di setiap percakapan kita.
Ku mohon sekali lagi dengan rasa hormat, sayangi aku selayaknya kamu menginginkanku dulu.
Hargai aku selayaknya kamu memintaku untuk mendampingi susah dan sedihmu.
Aku lelah disiksa oleh sikapmu.
Aku lelah disiksa oleh perkataanmu.
Aku lelah mengeluh.
Aku lelah mencaci.
Dan aku lelah untuk sekedar mengatur emosi.
Ku mohon..
Ku mohon..
Jadilah lelaki yang pertama kali aku kenal.
Jadilah lelaki yang membuat alasanku kuat untuk menerimamu dulu.
Jadilah lelaki sekurang-kurangnya seperti bapa yang enggan membuat air mata ini menetes tanpa ampun.
Kembalilah jadi lelaki yang peka dan bertanya bagaimana hatiku bagaimana keadaanku.
Bukan lelaki yang semakin hari rasanya semakin jauh dari hati.
Dari aku yang menangis saat fajar datang.
Untuk kamu yang mungkin sudah terlelap.
Aku rindu kamu.
rindu yang dulu.
😢