Selasa, 20 September 2016

Babi pink 21'th💜

Selasa, 20 September 2016
Pagi tadi aku bangun sangat pagi, ya itu karena rutinitas kampus yang memaksa mata untuk segera terbangun dari tempat ternyaman.
Sebelum beranjak, seperti biasa kucari handphoneku untuk sekedar membangunkan lelaki diujung jembatan sana. Tanda centang 2 mengisyaratkan bahwa pesanku sudah sampai, dan kupikir tak akan mungkin langsung dibalas ya aku tau dia pasti masih tertidur.
Ku buka akun instagram dan sontak aku sangat kaget pagi tadi.
Ya bagaimana tidak. Aku lupa bahwa hari ini sahabat terbaik yang aku miliki berulang tahun. ya allah tega sekali aku dalam benak.
Namun pikiran jahatku muncul, ah sudahlah aku tak akan mengucapkan ulang taun pagi ini. Nanti saja.
Dan selama aku mengetikkan kisah ini, rasanya aku masih belum tergambar bagaimana caranya agar sahabatku ini masih tetap merasakan bahwa aku ada mendoakannya. Selama perkuliahan pun rasanya aku tak berhenti berpikir bagaimana dan harus seperti apa juga. Buntu pikirku. Otak ini benar-benar tak bekerja dengan baik. dan aku benci.
Sudah aku lupa tanggal, aku pun dibuat bingung.
Maaf ca, aku tak berniat sekali pun untuk mengecewakanmu.
Oh ya, mungkin beberapa dari teman instagramku sudah pernah membaca sedikit cerita tentangmu. Sahabat yang benar-benar sangat aku syukuri kehadirannya. Bagaimana tidak ? dia benar-benar memiliki hati baik, dia tidak pernah sedikit pun mengecewakanku, dia pendengar setiaku, dia yang rela mendengarkan tangisku berjam-jam, dia yang memelukku saat aku benar-benar jatuh, dia yang menyemangatiku, dan hal yang sampai saat ini aku ingat ialah dia yang memegang tanganku sangat erat saat nafasku sudah diujung saat aku harus keluar masuk igd dan dia juga yang menemani saat-saat paling menyakitkan dalam hidupku.
Ah aku sangat mellow saat mengetikkan kisah ini, namun dia memang yang terhebat dalam hidupku.
Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan caranya. Dia manja sangat manja. Dia menyebalkan sangat menyebalkan saat aku mencarinya dan dia tak ada. Dia selalu aku rindukan. Aku rindu sangat rindu.
Aku sangat ingat saat aku harus berjalan kaki dari sekolah sampai toko buku, hanya dengan dia.
Aku pun sangat ingat saat ia benar-benar marah dan memaki seseorang yang dengan mudah membuat tangisku pecah. Bila saja orang lain tau bahwa dia sangat baik mungkinkah mereka yang dulu menyakitinya akan tetap berlaku demikian ?
Aku pun ingat saat ia dengan semangat menunjukkan bahwa aku tidak dalam posisi yang salah. Dia tidak pernah mengikuti arus, dia melihat segalanya dengan hati.
Pun aku ingat saat aku dan dia dibicarakan dengan terang-terangan di malam yang seharusnya kita merayakan kebahagiaan.
Aku ingat saat aku menangis bersama di tempat yang menurut mereka itu menyenangkan, hingga pagi hari sekali aku pergi mendahului mereka. Ah bila salah satu diantara kalian membaca ini, tenanglah aku sudah memaafkan kalian. Aku tau, kalian tak bermaksud seperti itu dulu.
Aku juga sangat ingat saat aku makan hanya  berdua dengan dia. Aku sangat ingat bagaimana kita tertawa disaat terpuruk sekalipun. Aku ingat bagaimana tangisnya dia pecah saat dikhianati lelaki yang hingga saat ini ingin sekali aku tonjok hingga memar.
Aku masih ingat semuanya ca.
Aku masih ingat.
Aku tak akan melupakan sedikit pun semua hal yang sudah kita lewati dan membuat kita jauh lebih dewasa sebelum waktunya.
Aku bahagia saat aku tau ada lelaki yang menyayangimu. Aku sangat tenang saat lelaki itu pun mengakuiku sebagai sahabatmu. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian. Sungguh.
Aku bingung harus mencurahkan apalagi dalam deretan alphabet ini. Karena apa ? karena terlalu panjang. Dan karena aku pun tak ingin membuat hari bahagiamu menjadi menyedihkan karena ingat luka terdahulu.
Sudahlah aku ingin mengucapkan doa terbaik untukmu sahabatku.
Hari ini kamu tepat 21 tahun ya ca, kurang lebih 6 tahun kita bersahabat, mungkin aku masih sangat jauh dari kata sahabat yang baik. terlebih akhir-akhir ini aku jarang membalas curhatanmu dengan cepat. Aku sedih, aku malu. Tapi semoga kamu masih berbesar hati untuk memaafkanku ya ca.
Ca..caca sayang caca udah 21 tahun di dunia.
Caca udah tau mana yang baik dan mana yang buruk bahkan jauh dari umur caca yang sekarang caca sudah sangat dewasa. Otan tau dibalik manjanya kamu, kamu  jauh lebih dewasa. Dan otan harap kedewasaan itu tetap ada dalam diri ca.
Ca..caca sayang, caca yang sehat disana. Caca jangan kebanyakan makan yang pedes, makan coklat, makan eskrim, caca harus banyak makanan yang sehat. Otan gamau denger caca masuk klinik, otan gamau denger ca harus diinfus, denger ca pingsan atau apalah itu.
Ca..caca sayang, caca sukses terus ya disemua bidang yang caca jalanin sekarang. Lancar kuliahnya ya sayang, taun depan kita wisuda. Taun depan kita udah punya gelar S.Pd ya ca.
Ca..caca sayang, caca harus panjang umur ya ca. otan gamau kehilangan ca. mungkin ini lebay buat orang lain, tapi ini bener-bener jujur dari hati yang paling daleemmm banget.
Ca..caca sayang, semoga rezeki caca terus dilancarin sama allah, biar caca bisa beli apapun yang ca mau pake uang ca sendiri.
Ca..caca sayang, caca harus mandiri ya. Caca harus kuat ngadepin semua orang yang gabisa ngejaga perasaan ca, tunjukkin kalau ca itu hebat dari apa yang mereka pikir.
Ca..caca sayang, semoga caca dapet jodoh yang terbaik ya ca, yang bisa nyayangin caca, ngejaga perasaan ca, jadi imam yang baik buat ca. caca harus janji sama otan kalau caca gaakan nangis karena masalah ini. Caca harus kuat.
Oh ya, caca juga harus tetep jadi anak yang shalehah ya sayang, buat mama sama papa caca nanti.
Ca..umur 21 tahun semoga menjadi awal hari yang baik dan menyenangkan buat ca sampai seterusnya.
Ca jangan lupa jalan ke Purwakarta. Ca harus inget kalau ca punya sahabat paling rese disini.
Ca..maaffin aku.
Maaf selama 3 atau 4 taun ini otan gak pernah bisa hadir tepat di hari ulang taun ca. Tapi otan harap semua doa yang otan minta sama allah dikabulin ya.
Inget ! ca harus sehat!
Sekali lagi otan mau ngucapin selamat ulang tahun sayang.
Makasih udah mau sahabatan sama aku, makasih untuk semuanya.
Duh ini ngetik sampe ingusan keknya, wkwk
Udah ah. Oh iya saat ini aku lagi gakaruan perasaan. Semoga kamu egk ya.
Plis untuk masalah ini semoga kita gak satu perasaan lagi.
Aku sayang kamu ca. sayang banget banget.
Sehat terus disana!! Jangan jahatin orang ! harus jadi pribadi yang baik, inget kan bu guru harus ngasih teladan yang baik juga.
Ah I miss you so bad ca.
Love you my besties (

With love
10 Intan.
(Oh iya satu foto diatas itu namanya Rida Yulianti, dia sama baiknya kaya kamu. Orang yang tau banget gmn cengengnya sahabat kamu ini ca.
Smg kalian ketemu ya nanti💜)

Senin, 12 September 2016

Ternyata, sudah sejauh ini..

Hari ke 11 dibulan ke 9 tahun 2016

Selepas suara diujung telpon terputus, rasanya ada sedikit sesak yang sulit aku gambarkan dengan deretan kalimat.
Entah mengapa rasanya aku malu dengan sikapku selama ini.
Ya mengapa tidak, aku yang sudah merasa bahwa diri ini sudah cukup baik nyatanya masih jauh dari baik. sudah 18 bulan aku mengenal sosok lelaki yang sudah sangat pasti menjadi alasan aku untuk menjentikkan jemari di setengah malam.
Ya tentu juga dengan alasan sebuah perasaan sayang.

Aku sangat sering menghabiskan malam-malam untuk sekedar mengumpulkan kantuk dengan menuliskan cerita tentang dia. Dia yang saat ini sudah terlelap dalam tidurnya.

Aku ulangi, aku mengenalnya sudah lebih dari 18 bulan, terhitung dari pertama kali pesan singkat terkirim dari handphonenya, dan terhitung pula dari pesan pertama,kedua juga ketiganya yang sering aku abaikan.

Entahlah..manusia akan selalu sampai pada tahap dimana yang diabaikan menjadi yang diprioritaskan keesokannya.

Begitu pun aku, dulu sama sekali tak pernah aku berpikir bahwa akan ada hari yang panjang, yang dilewati bersamanya. Jangankan berpikir, bermimpi pun rasanya tak pernah sekali pun. Ya walau pada akhirnya kita harus menyerah pada suatu garis Tuhan, garis yang sudah sangat dengan sempurnanya Ia buat.
Lalu, apakah aku bisa mengelakanNya ? apa aku bisa menolakNya ? tentu tidak bukan ?

Baiklah..aku tak ingin terlalu lama beromong kosong. Aku ingin melanjutkan ceritaku malam ini. Malam yang rasanya membuatku terpukul.
Bagaimana tidak,ternyata dia sudah sejauh ini berpikir. Dan dia sudah sejauh ini untuk memutuskan.

Juga aku..
Aku yang sudah sejauh ini berbuat semaunya, aku pikir tindakanku lah yang paling benar, padahal ? ini sungguh memalukan.
Mungkin benar, dulu aku terlalu larut dalam kata manja. Hingga dewasa definisi bagiku berbeda dengan ia. Saat ia mendefinisikan dewasa itu tentu tidak manja, namun dewasa definisi bagiku ialah ia yang tak mempermasalahkan kekuranganku.

Namun sekali lagi, ternyata disini posisikulah yang tak benar.
Aku malu sejujurnya, aku malu saat aku tau bahwa lelaki yang ku anggap masih tidak berpikir matang untuk kedepannya ternyata berpikir ratusan langkah dariku.
Bagaimana tidak ?
Ia tengah menilaiku, ia tengah membandingkanku.
Dan aku ? aku sibuk dengan pemikiran kekanak-kanakanku. Aku masih berpikir bahwa guyonannya ialah fakta, dan faktanya ialah guyonannya.
Aku yang masih belum bisa mengalah dengan ego. Aku yang masih termakan oleh emosi. Aku yang masih merengek menangis meminta dimengerti. Sementara ? dia yang paling banyak mengerti.

Maka sangat wajar bila saat ini aku malu untuk mengulang puluhan bahkan ratusan kali kata "maaf, maklumi aku".

Mengapa pola pikirku tak bisa sejauh itu ? mengapa aku merasa tahap ini akulah yang paling dewasa diantara dia ?
Bolehkah aku menertawakan diriku sendiri ?
Ya karena aku pantas untuk ditertawakan.
Aku yang penuntut ini ternyata tak memiliki cermin, pantas saja setiap aku bertanya apa salahku, jawabannya sangat klise. Ya aku tau, ia pasti bosan. Namun ia bertahan, lalu saat ia bertahan, pertanyaanku sangat bocah sekali, sangat polos aku bertanya mengapa ia bertahan ? mengapa aku tidak mengucap terima kasih saja ? haruskah aku membuat diriku tampak bodoh bahkan amat bodoh untuk hal ini ?

Sudah sangat jelas bahwa ia bertahan karena perasaan sayang yang tentu tak bisa dibuat dengan mudah bagaimana alasannya.
Lantas mengapa aku harus menjadi perempuan yang berumur belasan tahun disaat umurku sudah lebih dari itu ? Perempuan yang harus menyertakan alasan mengapa lelakinya bertahan, dan atas dasar apa ?
Ya! mengapa juga aku harus menjadi perempuan yang seolah baru mengenal cinta ? perempuan yang berada di posisi selalu benar ? Padahal? Padahal seharusnya aku tidak seperti itu.

Baiklah. Aku paham.
Ternyata aku sudah sejauh ini, aku bukan lagi anak sekolah.
Statusku sudah mahasiswa tingkat akhir, aku tengah dinilai oleh lelaki yang ku harap menjadi imamku kelak. Lantas mengapa aku masih menjadi perempuan yang memperburuk nilai ? ini bukan lagi saatnya.


Ingatlah..aku sudah sejauh ini.
Aku sudah seluas ini, pembahasanku bukan lagi dengan siapa aku sekarang, tapi dengan siapa aku nanti dan bagaimana.

Ya..aku sudah sejauh ini memutuskan.
Ya..aku sudah sejauh ini berpikir.
Ya..aku sudah sejauh ini perkara memilih ia.
Pun sudah sangat jauh dalam hal meyakinkan diri.
Meyakinkan bahwa aku layak untuk ia pertimbangkan.
Memantaskan diri untuk menjadi tujuan terakhirnya.
Mengapa ?
Sebab aku tak ingin menjadi perempuan yang memalukan dia.
Aku ingin menjadi perempuan sebagaimana ibunya.
Aku ingin menjadi perempuan yang ia banggakan, BUKAN yang ia lepaskan, sebagaimana ia berkata tadi di ujung telpon.

Ah pantaskah saat ini aku melontarkan maaf lagi kepadamu ?
Maaf untuk hari yang lalu
Maaf untuk egoku
Maaf untuk permohonan maklumku yang sudah tak terhitung jumlahnya.

Sayang, aku genapkan perasaanku untukmu, maka harapku kamu tak mengganjilkannya.
Sayang, aku akhiri malam ini dengan kalimat bahwa aku menyayangimu, ku ulangi lagi aku menyayangimu…ia kamu yang saat ini diam membaca tulisanku.
Ingatlah, kita sudah sejauh ini, jangan pernah memenggal kisah ini.
Ingat jua, kita sudah pernah sejauh ini membangun, maka jangan pernah dengan mudah menghancurkannya.
Lalu ingat pula, aku sudah sejauh ini menyayangimu.


Terima kasih karena sudah sejauh ini pula kamu meyakinkanku dengan caramu.
Terima kasih..aku suka caramu.
Aku suka.
Aku sangat suka.


With love 10Intan.