Selepas suara diujung telpon terputus, rasanya ada sedikit sesak yang sulit aku gambarkan dengan deretan kalimat.
Entah mengapa rasanya aku malu dengan sikapku selama ini.
Ya mengapa tidak, aku yang sudah merasa bahwa diri ini sudah cukup baik nyatanya masih jauh dari baik. sudah 18 bulan aku mengenal sosok lelaki yang sudah sangat pasti menjadi alasan aku untuk menjentikkan jemari di setengah malam.
Ya tentu juga dengan alasan sebuah perasaan sayang.
Aku sangat sering menghabiskan malam-malam untuk sekedar mengumpulkan kantuk dengan menuliskan cerita tentang dia. Dia yang saat ini sudah terlelap dalam tidurnya.
Aku ulangi, aku mengenalnya sudah lebih dari 18 bulan, terhitung dari pertama kali pesan singkat terkirim dari handphonenya, dan terhitung pula dari pesan pertama,kedua juga ketiganya yang sering aku abaikan.
Entahlah..manusia akan selalu sampai pada tahap dimana yang diabaikan menjadi yang diprioritaskan keesokannya.
Begitu pun aku, dulu sama sekali tak pernah aku berpikir bahwa akan ada hari yang panjang, yang dilewati bersamanya. Jangankan berpikir, bermimpi pun rasanya tak pernah sekali pun. Ya walau pada akhirnya kita harus menyerah pada suatu garis Tuhan, garis yang sudah sangat dengan sempurnanya Ia buat.
Lalu, apakah aku bisa mengelakanNya ? apa aku bisa menolakNya ? tentu tidak bukan ?
Baiklah..aku tak ingin terlalu lama beromong kosong. Aku ingin melanjutkan ceritaku malam ini. Malam yang rasanya membuatku terpukul.
Bagaimana tidak,ternyata dia sudah sejauh ini berpikir. Dan dia sudah sejauh ini untuk memutuskan.
Juga aku..
Aku yang sudah sejauh ini berbuat semaunya, aku pikir tindakanku lah yang paling benar, padahal ? ini sungguh memalukan.
Mungkin benar, dulu aku terlalu larut dalam kata manja. Hingga dewasa definisi bagiku berbeda dengan ia. Saat ia mendefinisikan dewasa itu tentu tidak manja, namun dewasa definisi bagiku ialah ia yang tak mempermasalahkan kekuranganku.
Namun sekali lagi, ternyata disini posisikulah yang tak benar.
Aku malu sejujurnya, aku malu saat aku tau bahwa lelaki yang ku anggap masih tidak berpikir matang untuk kedepannya ternyata berpikir ratusan langkah dariku.
Bagaimana tidak ?
Ia tengah menilaiku, ia tengah membandingkanku.
Dan aku ? aku sibuk dengan pemikiran kekanak-kanakanku. Aku masih berpikir bahwa guyonannya ialah fakta, dan faktanya ialah guyonannya.
Aku yang masih belum bisa mengalah dengan ego. Aku yang masih termakan oleh emosi. Aku yang masih merengek menangis meminta dimengerti. Sementara ? dia yang paling banyak mengerti.
Maka sangat wajar bila saat ini aku malu untuk mengulang puluhan bahkan ratusan kali kata "maaf, maklumi aku".
Mengapa pola pikirku tak bisa sejauh itu ? mengapa aku merasa tahap ini akulah yang paling dewasa diantara dia ?
Bolehkah aku menertawakan diriku sendiri ?
Ya karena aku pantas untuk ditertawakan.
Aku yang penuntut ini ternyata tak memiliki cermin, pantas saja setiap aku bertanya apa salahku, jawabannya sangat klise. Ya aku tau, ia pasti bosan. Namun ia bertahan, lalu saat ia bertahan, pertanyaanku sangat bocah sekali, sangat polos aku bertanya mengapa ia bertahan ? mengapa aku tidak mengucap terima kasih saja ? haruskah aku membuat diriku tampak bodoh bahkan amat bodoh untuk hal ini ?
Sudah sangat jelas bahwa ia bertahan karena perasaan sayang yang tentu tak bisa dibuat dengan mudah bagaimana alasannya.
Lantas mengapa aku harus menjadi perempuan yang berumur belasan tahun disaat umurku sudah lebih dari itu ? Perempuan yang harus menyertakan alasan mengapa lelakinya bertahan, dan atas dasar apa ?
Ya! mengapa juga aku harus menjadi perempuan yang seolah baru mengenal cinta ? perempuan yang berada di posisi selalu benar ? Padahal? Padahal seharusnya aku tidak seperti itu.
Baiklah. Aku paham.
Ternyata aku sudah sejauh ini, aku bukan lagi anak sekolah.
Statusku sudah mahasiswa tingkat akhir, aku tengah dinilai oleh lelaki yang ku harap menjadi imamku kelak. Lantas mengapa aku masih menjadi perempuan yang memperburuk nilai ? ini bukan lagi saatnya.
Ingatlah..aku sudah sejauh ini.
Aku sudah seluas ini, pembahasanku bukan lagi dengan siapa aku sekarang, tapi dengan siapa aku nanti dan bagaimana.
Ya..aku sudah sejauh ini memutuskan.
Ya..aku sudah sejauh ini berpikir.
Ya..aku sudah sejauh ini perkara memilih ia.
Pun sudah sangat jauh dalam hal meyakinkan diri.
Meyakinkan bahwa aku layak untuk ia pertimbangkan.
Memantaskan diri untuk menjadi tujuan terakhirnya.
Mengapa ?
Sebab aku tak ingin menjadi perempuan yang memalukan dia.
Aku ingin menjadi perempuan sebagaimana ibunya.
Aku ingin menjadi perempuan yang ia banggakan, BUKAN yang ia lepaskan, sebagaimana ia berkata tadi di ujung telpon.
Ah pantaskah saat ini aku melontarkan maaf lagi kepadamu ?
Maaf untuk hari yang lalu
Maaf untuk egoku
Maaf untuk permohonan maklumku yang sudah tak terhitung jumlahnya.
Sayang, aku genapkan perasaanku untukmu, maka harapku kamu tak mengganjilkannya.
Sayang, aku akhiri malam ini dengan kalimat bahwa aku menyayangimu, ku ulangi lagi aku menyayangimu…ia kamu yang saat ini diam membaca tulisanku.
Ingatlah, kita sudah sejauh ini, jangan pernah memenggal kisah ini.
Ingat jua, kita sudah pernah sejauh ini membangun, maka jangan pernah dengan mudah menghancurkannya.
Lalu ingat pula, aku sudah sejauh ini menyayangimu.
Terima kasih karena sudah sejauh ini pula kamu meyakinkanku dengan caramu.
Terima kasih..aku suka caramu.
Aku suka.
Aku sangat suka.
With love 10Intan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar