Sudah tepat 20.33 wib.
Kita sudah hampir 24jam lebih tidak saling menyapa.
Kita menyiksa diri.
Dan kita terdiam dengan ratusan pemikiran yang membunuh.
Khususnya aku.
Aku kehabisan kata untuk menjelaskan bagaimana hatiku saat ini.
Bagaimana kita saat ini.
Dan bagaimana kita esok hari.
Mengapa harus separah ini?
Mengapa harus semenyakitkan ini?
Mengapa harus semenyedihkan ini?
Mengapa?
Bisakah kamu jelaskan jawaban dari semua pertanyaan yang sejatinya membuat nafasku terengah setiap detiknya.
Membuat ujung tenggorokanku kian tercekik.
Dan membuat air mata memencahkan kelopak mataku.
Taukah kamu seperti apa aku saat ini.
Aku menggigit bibirku, menguatkan diriku sendirian.
Menyeka stiap air mata sendirian.
Menelan semuanya serba sendirian.
Lalu kemana kamu?
Dimana kamu?
Dan seperti apa akhir yang kamu inginkan?
Seperti inikah?
Aku yakin bukan seperti ini.
Lantas mengapa?
Mengapa kamu mendiamkan "kita"
Mendinginkan "kita"
Jika mencintaimu itu perjuangan, belum cukupkah perjuanganku selama ini?
Belum cukupkah tulisanku menggambarkan betapa aku terpukul saat kamu pergi.
Dan betapa aku bahagia saat kamu ada.
Jika saja ketakutkanku dapat kamu baca dari jarak terdekat maupun terjauhmu.
Masihkah "kita" dibuat sesakit ini.
Hari ini rasanya tulisanku sangat tak bermakna dan tak beralur.
Ini karena hatiku tengah tak menentu.
Semoga kamu pahami.
Sekali lagi.
Haruskah 'kita' seperti ini?
Dan kesekian kalinya.
-aku menyayangimu-
Without you
10Intan.
Minggu, 09 Oktober 2016
Sabtu, 08 Oktober 2016
Kita perlu..
Sabtu 8 Oktober 2016
Aku bingung memulai kata darimana.
Mengeja huruf darimana.
Dan menyisipkan spasi di bagian mana.
Aku bingung sangat bingung.
Beberapa hari ini rasanya kita berada dalam puncak ego paling tinggi diantara hari sebelumnya.
Kita dikendalikan oleh segala jenis amarah.
Kita dibutakan oleh kejenuhan.
Hal itu definisi menurutku, mungkin akan berbeda saat kamu yang menceritakannya.
Hanya saja, ini tulisanku maka persepsikulah yang ku tuliskan.
Baik rasanya harus ku mulai.
Sejujurnya aku benar-benar bingung apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita perjuangkan.
Apakah kita sudah benar-benar berbeda arah atau hanya lupa arah?
Coba sedikit saja kita jelaskan, apa yang sebenarnya kita perbuat dalam hal ini.
Coba berikan sedikit jeda untuk kita saling menyapa dari mata ke mata dan dari hati ke hati.
Coba saja sisakan satu waktu untuk kita mengehela nafas panjang ataa sesak yang kita buat bersama ini.
Sebab, hingga saat ini pun bukan cuma aku yang membingungkan kondisi ini, pasti kamu pun sama.
Bagaimana bisa aku menebak?
Ya aku bisa menebak karena aku tau bagaimana dirimu dan hatimu.
Sekali lagi, ini hanya soal rasa ingin dimengerti yang masih saja kita perebutkan.
Soal rasa yang kita buat rumit melebihi rumus eksak layaknya matematika atau fisika.
Dan kamu tau, bagaimana kita saat ini ?
Kita ialah yang sama-sama merasa berjuang sendirian.
Lelah sendirian.
Dan jenuh sendirian.
Kita lupa bagaimana cara kita menggenggam satu sama lain, kita lupa cara mengisi antar celah jari jemari kita, kita lupa bagaimana rasanya peluk, kita benar-benar dibuat lupa oleh rasa yang sejatinya akan disesali nanti (mungkin).
Aku tak menyalahkanmu.
Pun tak menyalahkan waktu.
Sebab bagiku tak ada yang salah diantara kita.
Sebab bagiku kita hanya perlu satu waktu untuk menyendiri, dan satu waktu untuk saling bertatap.
Merasakan degup jantung serta aliran darah yang diam-diam riuh saat kita berusaha untuk berbicara, bukan berbicara biasa. Melainkan berbicara untuk tidak membuat satu diantara kita bersedih.
Ya aku tau, rasanya akan sulit saat kita terus menerus tenggelam dalam ego.
Rasanya akan sulit saat kita terus menerus saling menyalahkan, tanpa berusaha untuk membenarkannya.
Lantas kita harus bagaimana?
Kita harus bertemu di waktu yang sangat tepat.
Kita harus memulai kembali bernafas dengan semestinya, mengasihi dengan sewajarnya, mengasihi dengan sepenuhnya.
Hingga kita kembali sadar, bahwa kita tengah diuji dan kita lulus.
Lalu.
Segala cita yang kita tanggalkan beberapa saat ke belakang, kita raih kembali.
Atau jika memang sudah sangat layak untuk ditanggalkan, setidaknya kita pernah berjuang bersama dan menyelesaikan hal ini bersama.
Bukan sama-sama diam, namun sama-sama menanti.
Sekali lagi, sebuah pertemuan yang membuat kita berkisah, maka sudah seharusnya pula sebuah pertemuan yang menjadi jawaban bagaimana kita seterusnya.
Ku harap kita dapat lulus dari ujian ini.
Iya itu harapku.
Semoga sama dengan harapmu.
Sebab sebelum, sesaat dan sesudah aku menuliskan hal ini. Rasanya perasaanku masih sama terhadapmu.
Ya.
Aku masih menyayangimu.
Smg saja kamu tak bosan membacanya.
Oh ya.
Selamat malam.
Semoga mimpimu indah, maaf untuk tak mengirimkan sebaris ucapan.
Sebab rasanya akan hambar bila ku kirimkan saat kita tengah dalam posisi seperti ini.
Maka biarlah bulan yang mengirimkan ucapan ini untukmu.
Satu lagi, semoga kamu lekas sembuh.
Aku tau, bebanmu masih berat.
Maka smg allah senantiasa mengangkat sakitmu.
Bahagia selalu kamu.
Lelaki 24 Februari yang aku sayangi.
Dariku.
Intan Lestari.
Aku bingung memulai kata darimana.
Mengeja huruf darimana.
Dan menyisipkan spasi di bagian mana.
Aku bingung sangat bingung.
Beberapa hari ini rasanya kita berada dalam puncak ego paling tinggi diantara hari sebelumnya.
Kita dikendalikan oleh segala jenis amarah.
Kita dibutakan oleh kejenuhan.
Hal itu definisi menurutku, mungkin akan berbeda saat kamu yang menceritakannya.
Hanya saja, ini tulisanku maka persepsikulah yang ku tuliskan.
Baik rasanya harus ku mulai.
Sejujurnya aku benar-benar bingung apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita perjuangkan.
Apakah kita sudah benar-benar berbeda arah atau hanya lupa arah?
Coba sedikit saja kita jelaskan, apa yang sebenarnya kita perbuat dalam hal ini.
Coba berikan sedikit jeda untuk kita saling menyapa dari mata ke mata dan dari hati ke hati.
Coba saja sisakan satu waktu untuk kita mengehela nafas panjang ataa sesak yang kita buat bersama ini.
Sebab, hingga saat ini pun bukan cuma aku yang membingungkan kondisi ini, pasti kamu pun sama.
Bagaimana bisa aku menebak?
Ya aku bisa menebak karena aku tau bagaimana dirimu dan hatimu.
Sekali lagi, ini hanya soal rasa ingin dimengerti yang masih saja kita perebutkan.
Soal rasa yang kita buat rumit melebihi rumus eksak layaknya matematika atau fisika.
Dan kamu tau, bagaimana kita saat ini ?
Kita ialah yang sama-sama merasa berjuang sendirian.
Lelah sendirian.
Dan jenuh sendirian.
Kita lupa bagaimana cara kita menggenggam satu sama lain, kita lupa cara mengisi antar celah jari jemari kita, kita lupa bagaimana rasanya peluk, kita benar-benar dibuat lupa oleh rasa yang sejatinya akan disesali nanti (mungkin).
Aku tak menyalahkanmu.
Pun tak menyalahkan waktu.
Sebab bagiku tak ada yang salah diantara kita.
Sebab bagiku kita hanya perlu satu waktu untuk menyendiri, dan satu waktu untuk saling bertatap.
Merasakan degup jantung serta aliran darah yang diam-diam riuh saat kita berusaha untuk berbicara, bukan berbicara biasa. Melainkan berbicara untuk tidak membuat satu diantara kita bersedih.
Ya aku tau, rasanya akan sulit saat kita terus menerus tenggelam dalam ego.
Rasanya akan sulit saat kita terus menerus saling menyalahkan, tanpa berusaha untuk membenarkannya.
Lantas kita harus bagaimana?
Kita harus bertemu di waktu yang sangat tepat.
Kita harus memulai kembali bernafas dengan semestinya, mengasihi dengan sewajarnya, mengasihi dengan sepenuhnya.
Hingga kita kembali sadar, bahwa kita tengah diuji dan kita lulus.
Lalu.
Segala cita yang kita tanggalkan beberapa saat ke belakang, kita raih kembali.
Atau jika memang sudah sangat layak untuk ditanggalkan, setidaknya kita pernah berjuang bersama dan menyelesaikan hal ini bersama.
Bukan sama-sama diam, namun sama-sama menanti.
Sekali lagi, sebuah pertemuan yang membuat kita berkisah, maka sudah seharusnya pula sebuah pertemuan yang menjadi jawaban bagaimana kita seterusnya.
Ku harap kita dapat lulus dari ujian ini.
Iya itu harapku.
Semoga sama dengan harapmu.
Sebab sebelum, sesaat dan sesudah aku menuliskan hal ini. Rasanya perasaanku masih sama terhadapmu.
Ya.
Aku masih menyayangimu.
Smg saja kamu tak bosan membacanya.
Oh ya.
Selamat malam.
Semoga mimpimu indah, maaf untuk tak mengirimkan sebaris ucapan.
Sebab rasanya akan hambar bila ku kirimkan saat kita tengah dalam posisi seperti ini.
Maka biarlah bulan yang mengirimkan ucapan ini untukmu.
Satu lagi, semoga kamu lekas sembuh.
Aku tau, bebanmu masih berat.
Maka smg allah senantiasa mengangkat sakitmu.
Bahagia selalu kamu.
Lelaki 24 Februari yang aku sayangi.
Dariku.
Intan Lestari.
Langganan:
Komentar (Atom)