Sabtu malam penuh kepenatan.
Penuh rasa sesal.
Sesak menjenuhkan.
Smuanya bersatu padu memecah hati.
Sebenarnya ini hanyalah sbuah perasaan rindu yang tak tau harus bermuara kemana.
Harus menuju aliran mana.
Dan harus kepada siapa.
Padahal aku tau sebenarnya ini rindu yang mutlak milik kamu.
Kamu yang belum Tuhan izinkan untuk saling bertatap wajah scara langsung dgn aku.
Malam ini sudah jadi malam yang sangat biasa.
Dimana kamu hilang bersama ribuan kosa kata dalam isi kicauan twitterku.
Kamu yang sudah sangat tak aneh lagi dgn perilaku datang dan pergi.
Kamu benar-benar mengajarkanku kesabaran.
Mengajarkan aku menghargai sebuah komunikasi.
Juga mengajarkan aku mengerti stiap waktumu yang sangat penuh itu.
Aku memang hanya skdar temanmu TAK LEBIH.
Aku juga bukan siapa siapa bagi kamu.
Tapi kamu slalu menjadi bagian dari penambah mood skaligus penghancur mood.
Kamu tau?
Di penghujung malam aku kepayahan menatap layar handphoneku.
Di penghujung malam aku kelelahan menunggu waktu yang stiap detiknya terasa menusuk.
Di penghujung malam hingga terlelapnya aku masih dalam kondisi menanti satu buah kabar dgn hasil yang sangat nihil.
Sungguh aku merasa rindu ini seakan tak berarti.
Seakan hanya angin yang bisa dirasakan tapi tak berwujud.
Seakan hanya oksigen yang bisa kamu hirup tapi tak kamu syukuri.
Di penghujung malam
Ada sbuah asa
Asa sbuah rindu
Juga Ada rasa penat
Namun tetap ada rasa ingin menanti.
Menantikan bulan ada di jam12 siang, dan menantikan matahari ada di jam 12malam.
Iya itu perandaianku,karena aku tau smuanya hanya akan berakhir pada kata "mustahil"
Di penghujung rindu ini.
Disini,di palung hati yang amat sesak.
Masih ada nama kamu utuh:)
yang kamu abaikan.
10Intan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar