Senin, 10 November 2014

100hari setelah itu..

Minggu,09 November 2014
tepat 100 hari, iya tepat 100 hari setelah kita bertatap muka. setelah kedua mata akhirnya bisa saling bertemu. tepat kedua lengan bersentuhan dan saling menggenggam.
tepat juga hari dimana ada perbincangan nyata antara aku dan kamu, bukan lagi sebuah perbincangan semu.
ada rasa semangat yang menggebu saat aku mengangkat cerita kita ke dalam sebuah tulisan ini.
namun sebelumnya, bolehkah ku tanyakan kabarmu, apakah kamu selalu sehat, apakah kamu selalu bersemangat dalam setiap tugasmu, ataukah sebaliknya, karena kabar terakhir kamu tengah terserang anemia bukan ? ah semoga hari ini darahmu sudah kembali normal. iya semoga :)
jumat di awal bulan lalu akhirnya Tuhan mempertemukan kita, membuat semua khayalan dan semua kesemuan menjadi sebuah kenyataan dan fakta.
iya kamu tepat berada di depan bola mataku, kamu tepat berada 1m kurang dari posisi dudukku.
ah andai saja kamu tau,kebahagiaan dan kesenangan seperti apa yang saat itu aku rasakan.
kamu tau?
perandaianku adalah hati ini seperti sedang merayakan tahun baru, iya penuh suara terompet dan kembang api bergemuruh dan meledak, sungguh lagi-lagi andai saja kamu tau bahwa aku sangat bahagia saat itu !
Bahagia yang tak bisa ku ungkapkan, tak bisa aku gambarkan sekalipun dengan kuas yang begitu mahal nan indah.
Karena bahagia yang ku rasa sangatlah sempurna.
Perlahan tapi pasti ku atur degup jantungku, ku atur hembus nafasku dan ku atur sgala hal nya agar tampak "biasa" sekalipun ini "luar biasa".
Semuanya Ku coba demi tuk terlihat tenang di hadapanmu.
agar tak ada rasa risih yang muncul darimu.
Ku biarkan kamu yang membuka percakapan singkat yg tak lebih dari 120menit itu.
Ku biarkan pula kamu yang menguasai percakapan "kita".
Ini bukan karena aku yang meng-esakan kamu tapi ini murni karena aku yang merasakan perubahan 360derajat ,dimana perempuan bawel ini bisa diam seribu bahasa,sulit utk memulai,sulit utk berbicara seenaknya hingga tak terasa pula aku bak putri keraton yg hanya berbicara bila ditanya.
ini benar adanya Tuan. ah andai kamu tau hal ini dan kamu sadari.

andai pula kamu tau bahwa perempuan yang tepat dihadapan dua bola mata elangmu tengah kewalahan mengatur segala hal yang tak jua kamu sadari.
aku yang terus merasakan debaran jantung entah dengan kecepatan berapa, aku yang sejujurnya ingin menampar wajahku sndiri agar aku yakin ini bukanlah mimpi. Iya ini kenyataan!
Andai saja kamu tau aku yang sejak awal kakimu menginjakkan di depan gerbang rumahku meminta kepda Tuhan untuk hentikan waktu agar kamu lebih lama disini.
Agar kamu tak langsung pergi.
Agar kamu masih bisa berbagi cerita dengan aku. Iya dengan aku perempuan yang sudah sangat lama menanti waktu ini datang.
Perempuan yang bersembunyi dibalik stiap sajaknya.

Hati ini terus memohon agar Tuhan bisa menghentikan kamu untuk tidak pergi
Untuk tidak meninggalkan aku LAGI
Untuk tidak menjauhkan kamu LAGI
Untuk tidak membuat percakapan kita membasi distiap harinya.
Untuk tidak membuat aku menunggu LAGI
Untuk tidak membuat kesedihan LAGI
Untuk tidak membuat aku kepayahan menanti satu denting bbm dari KAMU.

Dan nyatanya, waktu telah Tuhan biarkan berjalan semestinya, hingga akhirnya hal yang sedari tadi aku berusaha tampik pun datang , iya sesaat kamu berkata untuk pulang kembali ke tempat tugasmu.
Ah bisakah kamu bayangkan banyak sskali dawai kesedihan bersuara di lubuk hati ini.
Sungguh aku sangat berdoaa panjangkanlah waktu saat aku bersama kamu Tuan.
Kamu yang tentunya entah akan sudi datang lagi ataukah tidak sama sekali.
Ini yang pertama  kalinya kmu datang kerumahku dan bisa jadi hal pahitnya adalah ini yang terakhir:')

Lagi dan lagi aku tak pernah paham mengapa Tuhan seolah baik namun disisi lain seolah jahat sekali, Ia membiarkan kita berkenalan, bertemu namun Ia tak kunjung merestui Persatuan antara aku dan kamu. 
Mungkinkah harapan ini sejalan dengan harapanmu juga? Ataukah tidak? Yang jelas selagi kaki dan telapak tangan ini tak kunjung lelah untuk menanti,melangkah,serta memohon kepadaNya akan sebuah persatuan antara "kita" aku tak akan pernah berhenti berharap.

Kini ku biarkan kamu pergi LAGI 
Ku biarkan angin mengantarkanmu 
Ku biarkan matahari menjadi saksi bisu bahwa kamu pernah berada di depan bola mataku.
Ku biarkan tanah yang kering ini menjadi jejak-jejak bisu bahwa kakimu dan kakiku pernah berjalan beriringan.
Dan kini.. 
Punggung tanganmu tepat bersentuhan dengan jemari kecilku.
Jemari yang tentunya akan bersaksi dihadapanNya bahwa kita pernah saling menggenggam untuk beberapa detik.
Lantas saat ini ku biarkan badanku kepanasan hanya untuk melihatmu pergi menjauh.
Jauh dan jauh.
Ku biarkan wajah ini tetap satu lurusan dengan wajahmu di seberang sana.
Iyaa aku tetap menatapmu menyaksikan kepergianmu dengan senyuman yang tak henti-hentinya aku simpulkan.
Dengan lambaian tangan pula kamu balas senyumku ini.
Senyum getir meminta Tuhan kembali membawa ragamu dihadapanku lagi.

Sampai saat ini..
Saat hari berlalu begitu cepat.
Masih sangat ku ingat guratan senyummu,lambaian tanganmu, lalu kepergianmu kala itu..

Dan sampai Sekarang pula..
Aku hanya bisa melipat kedua tanganku 
Berdoa..
Iyaa berdoa, bukankah doa adalah satu-satunya jalan untuk memohon sebuah persatuan, jalan untuk mendoakanmu, jalan untuk merindukanmu, jalan untuk mengharapkan restu indah dariNya Iya kan Tuan ?

Sesaat setelah 100 hari itu..
Tepatnya hari ini, aku masih tertawan di dalam  sebuah cambukan rindu yang tak berujung.
Hari ini pula aku masih tertohok dalam sebuah pesakitan yang bagiku adalah kebahagiaan.
Kebahagiaan karena menunggu air mengalir dari hilir ke hulu.
Sebuah kemustahilan bukan? 
Lantas haruskah rasa 'cinta' dibuat sekonyol ini Tuan ?
Entahlah.


Satu hal yang perlu kamu tau..
Aku sangat rindu.
Rindu kamu Pak :)
Rindu tak berbalas.



Without Love 
10Intan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar