Sabtu, 10 Januari 2015

ialah aku..

Assalamualaikum 2015.
hari ke 10 di awal Januari, masih sangat malam, bahkan tengah larut malam.
masih ada perempuan yang terbangun dengan sekelumit perasaan yang entah harus diterjemahkan menggunakan apa.
sungguh, belum ada rasa kantuk yang menjalar di syaraf mata ini hingga saat jemari saling beradu dengan papan alphabet pun sang kantuk masih belum terasa.
lantas ku putuskan saja untuk bangun dan membuka layar laptop agar sesegara mungkin aku dapat bercerita bersama malam dan kedua malaikat di sampingku.

sudah 10 hari di awal tahun ini Allah memberikanku nikmat nafas yang tak terkira, nikmat sakit diawal minggu, nikmat berkumpul bersama keluarga, nikmat rezeki, dan nikmat lainnya.
rasa syukur atas 9 hari dan 1 hari yang baru saja satu jam enam menit yang lalu aku rasakan begitu istimewa.
banyak hal yang terjadi di awal tahun ini, lalu banyak pula perbedaan yang terpampang nyata, semua begitu terencana, namun catatan yang dapat kamu,atau kalian ketahui bahwa rencana itu ialah rencana Allah. bukan rencanaku.

satu hal yang tetap sama layaknya tahun lalu.
yakni penantian.
sampai saat ini kata menanti seakan tak ada habisnya terdengar gaung dan gemanya di gendang telingaku.
Ya benar, amat sangat benar. perempuan ini masih saja menanti seorang imam yang kelak akan ada satu shaf di depannya, perempuan ini masih saja menanti seseorang yang akan berikrar dibawah langit, dihadapan mamah dan bapa,keluarga,serta semuanya untuk senantiasa hidup dalam suka dan duka bersamanya, perempuan ini masih dan akan terus menanti seseoang yang entah masih Allah simpan dimana,bersama siapa dan dalam keadaan apa.

perempuan ini ialah aku sendiri..
ya aku.
aku yang harus menutup rapat-rapat telinga saat orang lain begitu mudahnya menganggap bahwa usahaku ini tak ada ujungnya.
meremehkan, menertawakan segala hal yang aku idamkan, seakan semuanya tak akan menjadi kenyataan.
ialah aku yang selalu berusaha tampak kuat dihadapan mamah ibu kandungku sendiri, wanita yang selalu mengkhawatirkan keadaan hatiku, wanita yang menangis saat aku ditimpah dengan rasa kecewa, wanita yang marah saat aku dikhianati dan disakiti.

ialah aku dengan segenap kekurangan namun berharap seseorang dengan kelebihannya.
ialah aku dengan segenap waktu.
ialah aku dengan segenggam harap.
ialah aku dengan setetes keringat.
ialah aku dengan sebutir sabar.
ialah aku dengan setulus hati menantimu.
ialah aku yang tertulis di dalam Lauhul Mahfudz-mu.
ialah aku yang tak sempurna namun tetap berusaha untuk menjadi baik untuk kamu.
ialah aku yang tak kaya raya namun tetap menabung kebaikan untuk kita nikmati bersama-sama kelak.
ialah aku yang mengenal lelah namun tetap bersemangat untuk menjemputmu ketika kamu datang di depan rumahku.
ialah aku yang mendoakanmu di stiap penghujung shalatku.
ialah aku dengan atau tanpa kamu saat ini akan terus berjuang atas nama cinta kepada Allah untuk beristiqomah menunggumu.

dan satu lagi tuan, ialah aku tulang rusukmu...

your  future wife.
with love 10Intan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar