Karena
tak selucu itu..
Sempat
ku miliki harap akan seseorang yang saat ini terpisah ratusan km dengan aku.
Dia sosok lelaki yang tentu lebih tinggi dariku, lebih hitam dariku dan lebih
dewasa dariku. Sosok yang bisa membuat hati bergeming, mulut yang kelu dan
lajur darah yang seakan mengalir deras. Dia lelaki 18 Maret yang aku kenal 15
April tahun lalu.
Sudah
hampir 10 bulan (katanya) aku mengenal dia, (katanya) aku pernah bercerita
dengannya, (katanya) aku yang pernah bertemu dengannya dan aku yang hingga saat
ini tak kunjung berani untuk meninggalkan satu baris komentar didalam social
media yang ia punya, aku yang tak pernah berani menekan jemari ini untuk
menanyakan kabarnya, aku yang slalu memilih diam dan berharap kamu akan pahami
semuanya.
Sudah
lama aku habiskan semua waktu hanya untuk bergantung pada sosok lelaki yang
sungguh biasa mengabaikan setiap kesusahan dan kepayahanku. Sudah lama pula ku
habiskan malam untuk menangis dan melukis mimpi agar kelak aku bisa menjadi
seseorang perempuan yang dengan bangga menceritakannya di hadapan orang lain,
aku yang dengan penuh semangat mendukung setiap langkah kakinya, profesinya dan
semua hal positif yang akan ia lakukan.
Sudah
lama jua aku habiskan air mata untuk sekedar memohon layaknya musafir di hadapan
Tuhanku, agar Ia sudi mempertemukan kita dan menyatukan kita, bukan malah
memisahkan kita seperti ini.
Sudah
lama aku sangat ingin mengatakan semuanya di hadapan wajahmu, aku yang bahkan
tak kau hiraukan bagaimana hati ini,bagaimana pedih ini,bagaimana luka ini dan
bagaimana pula aku bisa bertahan dengan sisa kekuatan hanya untuk kamu padahal
sudah sangat jelas bahwa aku bahkan tak pernah terbesit di dalam setiap denyut
nadi serta hembusan nafasmu.
Aku terlampau bodoh untuk berharap banyak pada
lelaki egosi sepertimu, lelaki yang hanya datang untuk menghancurkan semesta
yang amat payah ku susun rapi sisa badai di masa lalu.
Aku
terlampau menutup hati untuk orang lain sementara kamu terlampau bebas membuka
hatimu untuk perempuan lain selain aku.
Aku
sangat bodoh membiarkan waktuku tergerus hanya untuk menghambakan diri dalam
rengkuhmu yang justru tak nyata adanya.
Kebodohan
ini laksana embun bagiku, sejuk namun hanya sebentar terasa.
Kebodohan
ini laksana hal yang amat lumrah dan slalu penuh maklum.
Aku
membiarkan diri untuk terus terseret jauh dari hal nyata hanya untuk
merengkuhmu yang terus berlari meninggalkanku tanpa menoleh sedetik pun.
Aku
membiarkan diri untuk terus menghukum diri bahwa aku masih layak menggapaimu
yang sudah jauh terbang diatas sana bersama perempuan lain.
Hingga
saat ini, hingga malam ini, sesaat setelah semua terasa semakin pedih..
Ku
bulatkan tekad amat sangat bulat untuk melepaskanmu, melepaskan rengkuhmu,
melepaskan cengkramanmu yang dengan nyata aku sendiri yang buat bukan kamu.
Ku
tegarkan hati ini untuk bisa hidup dengan atau saat melihatmu bersamanya.
Ku
biarkan semuanya berjalan semestinya layaknya dahulu, sesaat sebelum ada kamu
dalam nafasku, dalam gemingku, dalam doaku, dalam lukaku dan tentu dalam lelah
serta tangisku.
Perjuanganku
tak selucu ini
Doaku
tak sekonyol ini
Hidupku
harusnya tak semenderita ini
Dan
kamu harusnya tak perlakukan ini
Bertingkah
baik, untuk kemudian sama saja seperti yang lain
Rasa
sayang ini tak ku sesali sedikit pun
Hanya
saja aku menyesali mengapa harus kamu yang dengan mudah mendobrak dinding hati
ini.
Mengapa
harus kamu yang menghancurkan semestaku dengan begitu singkatnya.
Serta
mengapa harus kamu yang menjadikan malamu semakin gelap
Menjadikan
siangku semakin panas
Serta
menjadikan hariku semakin tak bermakna.
Andai
saja kamu tau, bahwa semua yang ku lakukan tak selucu ini, tak sebodoh ini
Mungkinkah
peran ini akan tetap sama ?
ditulis akhir januari lalu, satu pertiga malam.
dengan penuh duka.
ini kisah terakhir.
selamat tinggal
10.Intan:')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar