Minggu, 08 Maret 2015

saatnya berkata selamat tinggal untuk kamu :)



Karena tak selucu itu..
Sempat ku miliki harap akan seseorang yang saat ini terpisah ratusan km dengan aku. Dia sosok lelaki yang tentu lebih tinggi dariku, lebih hitam dariku dan lebih dewasa dariku. Sosok yang bisa membuat hati bergeming, mulut yang kelu dan lajur darah yang seakan mengalir deras. Dia lelaki 18 Maret yang aku kenal 15 April tahun lalu.

Sudah hampir 10 bulan (katanya) aku mengenal dia, (katanya) aku pernah bercerita dengannya, (katanya) aku yang pernah bertemu dengannya dan aku yang hingga saat ini tak kunjung berani untuk meninggalkan satu baris komentar didalam social media yang ia punya, aku yang tak pernah berani menekan jemari ini untuk menanyakan kabarnya, aku yang slalu memilih diam dan berharap kamu akan pahami semuanya.

Sudah lama aku habiskan semua waktu hanya untuk bergantung pada sosok lelaki yang sungguh biasa mengabaikan setiap kesusahan dan kepayahanku. Sudah lama pula ku habiskan malam untuk menangis dan melukis mimpi agar kelak aku bisa menjadi seseorang perempuan yang dengan bangga menceritakannya di hadapan orang lain, aku yang dengan penuh semangat mendukung setiap langkah kakinya, profesinya dan semua hal positif yang akan ia lakukan.

Sudah lama jua aku habiskan air mata untuk sekedar memohon layaknya musafir di hadapan Tuhanku, agar Ia sudi mempertemukan kita dan menyatukan kita, bukan malah memisahkan kita seperti ini.

Sudah lama aku sangat ingin mengatakan semuanya di hadapan wajahmu, aku yang bahkan tak kau hiraukan bagaimana hati ini,bagaimana pedih ini,bagaimana luka ini dan bagaimana pula aku bisa bertahan dengan sisa kekuatan hanya untuk kamu padahal sudah sangat jelas bahwa aku bahkan tak pernah terbesit di dalam setiap denyut nadi serta hembusan nafasmu. 

Aku terlampau bodoh untuk berharap banyak pada lelaki egosi sepertimu, lelaki yang hanya datang untuk menghancurkan semesta yang amat payah ku susun rapi sisa badai di masa lalu.
Aku terlampau menutup hati untuk orang lain sementara kamu terlampau bebas membuka hatimu untuk perempuan lain selain aku.
Aku sangat bodoh membiarkan waktuku tergerus hanya untuk menghambakan diri dalam rengkuhmu yang justru tak nyata adanya.
Kebodohan ini laksana embun bagiku, sejuk namun hanya sebentar terasa.
Kebodohan ini laksana hal yang amat lumrah dan slalu penuh maklum.
Aku membiarkan diri untuk terus terseret jauh dari hal nyata hanya untuk merengkuhmu yang terus berlari meninggalkanku tanpa menoleh sedetik pun.
Aku membiarkan diri untuk terus menghukum diri bahwa aku masih layak menggapaimu yang sudah jauh terbang diatas sana bersama perempuan lain.

Hingga saat ini, hingga malam ini, sesaat setelah semua terasa semakin pedih..
Ku bulatkan tekad amat sangat bulat untuk melepaskanmu, melepaskan rengkuhmu, melepaskan cengkramanmu yang dengan nyata aku sendiri yang buat bukan kamu.
Ku tegarkan hati ini untuk bisa hidup dengan atau saat melihatmu bersamanya.
Ku biarkan semuanya berjalan semestinya layaknya dahulu, sesaat sebelum ada kamu dalam nafasku, dalam gemingku, dalam doaku, dalam lukaku dan tentu dalam lelah serta tangisku.
Perjuanganku tak selucu ini
Doaku tak sekonyol ini
Hidupku harusnya tak semenderita ini
Dan kamu harusnya tak perlakukan ini
Bertingkah baik, untuk kemudian sama saja seperti yang lain
Rasa sayang ini tak ku sesali sedikit pun
Hanya saja aku menyesali mengapa harus kamu yang dengan mudah mendobrak dinding hati ini.
Mengapa harus kamu yang menghancurkan semestaku dengan begitu singkatnya.
Serta mengapa harus kamu yang menjadikan malamu semakin gelap
Menjadikan siangku semakin panas
Serta menjadikan hariku semakin tak bermakna.
Andai saja kamu tau, bahwa semua yang ku lakukan tak selucu ini, tak sebodoh ini
Mungkinkah peran ini akan tetap sama ?



ditulis akhir januari lalu, satu pertiga malam.
dengan penuh duka.
ini kisah terakhir.
selamat tinggal
10.Intan:') 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar