Minggu, 30 Maret 2014

Hargai aku layaknya manusia.

Ya Tuhan
Sandiwara apalagi ini?
Nafasku menjadi tak karuan
Detakkan jantung yang benar-benar menghantam stiap detiknya
Tangan yang bergetar
Juga mata yang sekuat tenaga aku tahan untuk tidak menetes.
Aku teguhkan hati dan pikiran bersama jiwa yang sudah terasa hilang.
Menahan stiap sakit yang makin menjalar ke semua bagian tubuh.
Ini sakit yang amat dahsyat.
Seandainya aku bisa mengabadikan bagaimana aku saat menulis ini mungkin saja kalian manusia akan merasakan hal yang sama. Iya sakit!
kuatku adalah ibuku.
Kuatku adalah masa depanku.
Iya mencoba menguatkan diri untuk tidak lemah,untuk tidak rapuh bahkan disaat badai ataupun topan kian menghantam dengan keras tubuh yang gontai.
Drama sangat drama.
Tapi ini memang fakta.

Oke sabar yang ku punya memang sudah pasti tidaklah UNLIMITED.
Krn aku manusia!
Bukan benda mati!
Krn aku manusia!
bukan hewan.
Sabar yang ku punya sangatlah minim.
Namun beban yang ku tanggung sangatlah maksimal.
Usaha yang aku lakukan lantas sangat amat tidak mudah.
Berjalan dengan sebelah kaki.
Sangat timpang!

Ini benar benar aku rasakan.
Pahitnya melebihi obat yang malam tadi susah untuk ku telan.
Aku bukan aktris aku bukan anak teater yang handal memainkan drama.
Namun aku hanyalah sebatas penonton
Iya penonton yang memiliki insting tajam layaknya pisau belati.
Aku sudah lelah dengan insting yang orang lain tak miliki.
Karena mereka tak akan mempercayai stiap hal yang aku rasa itu akan menjadi nyata.
Yang ada aku disangka menuduh.
Ya Tuhan..
Cabut sajalah kepekaan ini.
Jujur saja aku sangat tersiksa dengan ini.
amat tersiksa.

Katanya aku manusia.
Bukankah manusia itu harus saling menghargai?
Lantas mengapa aku tidak merasakan penghargaan itu?
Apa memang aku tidak bernilai hingga orang lain tak menghargaiku?
Namaku intan!
Intan adalah logam mulia bukan?
Mahal juga bukan?
Tapi mengapa?

Aku sangat berusaha memadamkan api yang sejujurnya sangat membara di dalam hati
Rasanya ingin ku obrak-abrik smuanya
Aku ingin hancurkan hingga tak ada lagi sisa.

Tapi sayangnya ini sngtlah mustahil.
Aku hanya bisa mengungkapkan smua rasa melalui tulisan.
Merasakan stiap karakter yang ku susun secara acak dan tak bermakna terus berjejer layaknya tentara yang akan upacara.
Merasakan ke kalutan yang hebat.

Jika sudah seperti ini apa kamu tau?
Apa kamu paham?
Apa kamu cukup untuk merasakan setitik sakit yang aku rasa?
apa kamu tidak sangat menyadari itu smua?
Kemana kepekaanmu terhadap perempuan idiot ini?
Kemana perginya hati yang katanya menyayangi aku melebihi yang aku tau?
Apakah sayang itu menyakitkan?
Apakah cinta itu harus meneteskan air mata terus menerus?
Dan apakah kasih itu harus terus mendramatisir keadaan agar orang lain tau bahwa salah satu diantara kita itu benar atau salah?
Waw hebat sekali!

Kemana dan dimana kamu?
Pergi dengan smua perempuan yang dahulu amat sangat ku curigai?
Cobalah belajar untuk bisa memahami hati perempuan idiotmu ini.
Perempuan yang selalu bertopengkan tawa renyah di dpan orang.
Perempuan yang selalu ceria bahkan disaat hatinya hancur.
Perempuan yang amat sangat ikhlas saat hubungannya di gunting dengan mudah tanpa tau resiko dan tanpa melihat apa saja yang dahulu di rangkai!

Hanya dengan tiupan kecil angin smuanya hancur.
Hubungan ini layaknya kartu remi yang disusun piramid.
Hingga di suatu titik sesaat akan mencapai puncak semuanya hancur dengan tiupan !

Logikaku amat buntu saat ini.
Hanya saja aku amat ingin kamu tau dan ingin aku tekankan beberapa hal:
1.bagaimana bisa aku berteman baik dengan perempuan yang secara kebetulan kini hadir utuh bukan lagi bayangan.
2.Bagaimana bisa aku mengikhlaskan ini smua berakhir menggantung tanpa hal yang jelas.
3.Bagaimana bisa aku dibohongi oleh kamu yang aku kenal hampir 3tahun lamanya.
Sungguh aku sangat tidak bisa!

Kamu tau?
Tulisan ini aku buat dengan payah.
Menstabilkan tubuh yang amat panas,kepala yang tiada hentinya menusuk,mata yang memerah dan juga hati yang tak bisa ku gambarkan keadaanya.
Satu pertanyaanku saat ini.
Bisakah kamu menghargai hatiku layaknya aku manusia?
Itu saja.
Selebihnya apapun kapanpun siapapun dan dimanapun kamu itu hakmu.
Dan kewajibanku tidak lagi ikut campur.

Satu lagi.
Sakit ini akan kmu rasakan suatu saat nanti.
Cepat atau lambat smua akan terlihat.
Iya saat tuduhanku akan kmu rasakan dan alami utuh!

Selamat
Semoga sukses dengan dunia barumu.

Aku masih setia menjadi penonton terdepan sandiwaramu.


300314.00:12
10Intan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar